Agung Menjawab

Halaman ini adalah kumpulan dari pemikiran dan tanggapan Agung Wicaksono sebagai kandidat Ketua Ikastara, merespon berbagai pertanyaan yang disampaikan dalam forum diskusi dan mailing list almamater. Beberapa bagian telah di-edit untuk memperjelas konteks diskusi dan memudahkan pembacaan, tanpa bermaksud mengubah maknanya.

Intisari:
1. Agung tentang Figur Pemimpin dan Agen Perubahan Positif
2. Agung tentang Manajemen Semangat Tim
3. Agung tentang Konsep Perubahan di Ikastara
4. Agung tentang Ikastara Saat Ini
5. Agung tentang Partisipasinya di Ikastara
6. Surat terbuka Agung tentang ditolaknya hak suara alumni di Aceh

***

1. Agung tentang Figur Pemimpin dan Agen Perubahan Positif

Tanya: Organisasi yang baik adalah seberapa banyak “pemimpin” dan “agen perubahan positif” yang ada di dalamnya. Bagaimana pemikiran anda membentuk, mengelola, dan mengarahkan seberapa banyak pemimpin dan agen perubahan tersebut?

Jawab: Tentang Pemimpin, banyak orang yang percaya pemimpin tidak bisa dibentuk, tapi dilahirkan. Tapi ada juga yang percaya bahwa pemimpin -atau paling tidak kompetensi memimpin- bisa dibentuk lewat pendidikan.

Bagi saya, menjadi pemimpin atau bukan adalah permasalahan MEMILIH. Seseorang bisa punya kapasitas memimpin sejak lahir -a natural born leader- atau dibentuk lewat pendidikan untuk menjadi pemimpin -seperti yang dilakukan di SMATN- tetapi dia hanya akan menjadi pemimpin kalau dia memilih untuk itu, dengan segala konsekuensinya.

Dalam konteks inilah saya juga menilai bahwa kepengurusan PP Ikastara nantinya, termasuk tim yang saya bentuk, haruslah terdiri atas orang-orang yang MEMILIH untuk memimpin Ikastara, mengajukan diri dan sadar akan konsekuensinya. Tidak ada yang bisa memaksanya, sehingga ketika yang bersangkutan gagal menjalankan amanahnya bukan mereka yang memaksa inilah yang bertanggungjawab, melainkan diri pribadi.

Insya Allah, langkah saya ini adalah sebuah PILIHAN, yang didukung juga oleh teman-teman yang MEMILIH untuk itu.

Bicara tentang Agen Perubahan Positif dan perubahan, ingatan kita tentu melayang kepada tuntutan reformasi oleh rakyat terhadap pemimpin bangsa ini 10 tahun lalu. Secara jujur nyatanya, walau banyak perubahan di masyarakat ke arah yang positif, tetapi banyak juga situasi yang masih sama, atau bahkan memburuk dibanding situasi dahulu.

Perdebatan awalnya adalah: apakah perubahan harus diawali oleh agen (agent-based change) atau oleh sistem?

Kalau memang agen, maka orangnya yang harus diganti… tapi kemudian ketika Soeharto diganti sekalipun, ternyata perbaikan nyata belum terjadi tanpa perubahan struktural terhadap sistem politik dan ekonomi Indonesia.

Ketika sistem sudah banyak berubah seperti sekarang pun (kita punya DPR yang ‘bergigi’, Wapres yang lebih berwenang bukan sekedar ban serep, berbagai lembaga baru terbentuk seperti MK, KPK, KY, dan berbagai komnas maupun timnas lainnya), banyak yang masih belum puas dengan keadaan karena… orangnya masih yang itu2 juga!

Dalam hal ini, saya meyakini bahwa untuk terjadi perubahan ke arah positif dibutuhkan darah dan pemikiran segar untuk PP Ikastara. Insya Allah, dengan belum terlibatnya saya di PP Ikastara sebelumnya (tapi saya berperan sebagai anggota semaksimal mungkin dalam lokasi saya), saya dan teman-teman yang akan saya ajak bisa berperan sebagai agen perubahan positif tersebut.

2. Agung tentang Manajemen Semangat Tim

Tanya: Aku share pengalaman(ku): (Meskipun tiap orang memilih jabatannya sendiri dalam Ikastara) kesadaran memilih akan selalu terus diuji, mustahil semua lulus, kebanyakan sie kehabisan bensin… Demikian juga dengan fresh-person, fresh di pagi hari, biasanya bulukan di siang hari, makin loyo di sore hari. Pertanyaannya, bagaimana me-maintain 2 hal tersebut agar tetap stabil, dan bagaimana menghadapi kondisi terburuk “ditinggal” atau bahkan “dikhianati” orang yang dipercaya?

Jawab: Mengelola stamina tim memang bukan hal yang mudah, namun bisa dilakukan terutama dengan 2 hal:

Yang pertama, menetapkan target dan insentif yang menantang dari waktu ke waktu. Seorang pemain bola yang harus ikut Premier League, Champions League, EURO-08 dan berbagai kejuaraan lain nampaknya capek. Tapi sesungguhnya berbagai target menantang dan berbeda-beda itulah yg membuat mereka tetap terpacu. Dalam hal ini, kegiatan Ikastara 2008-2011 perlu dibagi2 ke dalam sebuah Roadmap, yang untuk setiap fase ada target flagship event tertentu yang memacu adrenalin semua yg terlibat.

Yang kedua, memelihara komunikasi yang konsisten. Terkadang anggota tim tidak bersemangat karena dia merasa ditinggalkan. Padahal sesungguhnya yg terjadi adalah komunikasi yg kurang antara pemimpin tim dan anggotanya. Sang pemimpin juga mengira anggotanya tidak komit, padahal mungkin anggota itu punya masalah tertentu yang ingin dikomunikasikan.

Di sini kecermatan pemimpin untuk memahami keinginan anggota sangat menentukan. Terutama ketika disadari bahwa kekerasan pendirian sang pemimpin saat itu lebih banyak membawa mudharat daripada manfaat. Bukan ‘tinggal gelanggang colong playu’ yang selalu didengungkan, tapi ‘kalau sudah mau ditendang ya mustinya malu’. Pada akhirnya, integritas-lah yang akan menentukan apakah seorang pemimpin akan selalu menjadi panutan anggota yang rela berkorban atau tidak.

3. Agung tentang Konsep Perubahan di Ikastara

Tanya: Change seperti apa sih yang ingin abang terapkan pada ikastara nantinya, yang secara khusus pengaruh positifnya gak hanya dapat dirasakah oleh ikastara, tapi juga terhadap civitas TN di magelang? dan bagaimana bentuk ideal organisasi ikastara menurut abang?

Jawab: Menindaklanjuti komentar bahwa “the only constant thing in life is change”, saya melihat konsep perubahan di Ikastara dengan sederhana.

Alumni pun berubah dari tahun ke tahun, dan sebagian besar perubahannya positif: makin dewasa, makin berkemampuan finansial, makin berpengaruh di masyarakat, makin banyak tanggungjawabnya, dll. Dengan sendirinya, Ikastara yang ada harus berubah pula menyikapi perubahan ini. Ikastara harus berubah menjadi Ikastara yang:

  • BERANI mengangkat profil alumni dan perannya di masyarakat untuk ditunjukkan kepada bangsa
  • BERANI membuat mekanisme ‘stick and carrot’ untuk kontribusi finansial anggota
  • BERANI ‘memanfaatkan’ pengaruh alumni (dalam kadar apapun) di masyarakat untuk kepentingan Ikastara dan SMATN


Pada akhirnya, tidak pandang bulu seharusnya siapa alumni angkatan berapa. Dalam konteks komentar tentang angkatan saya (terlepas dari situasi bahwa saya tidak berada di tempat saat Munas tahun lalu sehingga tidak bisa mengamati langsung apa yang terjadi), yang harusnya diperlukan adalah:

  • KEBERANIAN untuk berkata TIDAK jika sesuatu memang tidak sesuai dengan prinsip, kata hati ataupun kemampuan, bagi individu atau kelompok yang diajak terlibat
  • KEBERANIAN untuk menerapkan SANKSI jika sesuatu tidak berjalan, daripada membiarkan terjadinya penghakiman yang tidak proporsional sebagai bentuk sanksi sosial
  • KEBERANIAN untuk menyatakan secara TERBUKA, jika terdapat ganjalan di dalam bekerja, daripada terjadi hasil yang sub-optimal

4. Agung tentang Ikastara Saat Ini

Tanya: Apa tanggapan abang tentang kondisi PP Ikastara periode lalu (sekarang masih – red) ?

Jawab: In my humble opinion, berdasarkan pengamatan dan input cerita dari berbagai pihak…hal mendasar yang jadi isu dalam PP saat ini adalah:

1. Genesis pembentukannya dan ‘agen’ yang ingin melakukan perubahan saat itu
Terdapat banyak cerita bahwa pemimpin dan tim yang dibentuk tidak terjadi pada situasi yang ideal pada Munas yang lalu. Kalau banyak kesalahan soal kinerja yang tidak optimal ditimpakan pada salah satu pihak atau individu tertentu, menurut saya semua pihak harus adil melihat apa yang terjadi pada Munas tersebut, dan skenario yang terjadi di dalamnya. Secara detail, teman-teman yang hadir pada Munas tersebut bisa bercerita lebih detail.

2. Perkembangan kepengurusan
Dalam perkembangannya, sebagian besar pengurus yang ingin jadi ‘agen perubahan’ merasa tidak punya kesempatan untuk melakukan perubahan dan kehilangan motivasi, karena merasa hanya dikooptasi oleh pemimpin.

3. Usulan untuk kepengurusan Ikastara selanjutnya
Untuk itu, saya dan tim mengusulkan untuk membangun kepengurusan Ikastara dengan sebisa mungkin melibatkan individu yang baru dan tidak banyak terlibat dalam kepengurusan sebelumnya. Saatnya regenerasi dilakukan, dengan proses komunikasi intensif dan transfer informasi serta wisdom dari pemimpin masa sebelumnya kepada agen perubahan masa sekarang.

5. Agung tentang Partisipasinya di Ikastara

Komentar: Secara selama ini khan beliau (AGW – red) baru datang setelah di komporin Bang Kombor, dan selama ini emang seingat saya blom pernah ketemu Bang AGW. Rame2 pas mo Munas, ntar jangan2 abis Munas ilang lagi…

Tanggapan: Saya juga sayangnya belum pernah ketemu Anda. Saya juga sayangnya memang tidak bisa hadir dalam Munas 2005 (dan juga 2002) karena tidak sedang berada di tanah air. Tapi, dalam setiap wilayah Ikastara di mana saya berada, saya berupaya untuk memberikan, berbuat, atau paling tidak menikmati dalam aktivitas Ikastara yang saya bisa ikuti.

Alhamdulillah sempat hadir di salah satu acara diskusi Balairung dengan Imam Prasodjo (saat sedang berada di Jakarta 1 bulan untuk penelitian, sambil ajak istri ke acara itu sehingga dia tahu juga komunitas Ikastara). Syukur juga sempat ikut rame2 Outing dengan adik2 mahasiswa di Ikastara65 (saat lagi jadi ‘bujangan’ karena ditinggal istri dan anak pulang ke Indonesia). Beruntung sempat ikutan milis TN-Euro (yang gak tahu sekarang masih ada atau tidak) saat masih sekolah di sana. Tentunya juga beberapa kali terlibat Buka Puasa bersama Ikastara Bandung di masa-masa kuliah di ITB 9-13 tahun yg lalu…

Dan sekarang alhamdulillah sudah sempat ketemu lagi dengan Bang Kombor – walaupun memang, sempat diomeli di dunia cyber sebelumnya🙂 – dan Ikastara Tangerang, tempat saya tinggal. Bersyukur juga semalam bertemu 30-an orang alumni di Ikastara Bandung, nostalgia ketawa-ketiwi masa kuliah dan SMA, sambil mendengar cerita-cerita mereka.

Jujur memang, dalam 7-8 tahun terakhir saya tidak berada di pusaran hingar-bingar aktivitas Ikastara dan hiruk-pikuk kepengurusan pusat Ikastara, dengan lokasi yang jauh dari pusat pusaran itu. Maka dari itu saya temui Bang Kombor dan alumni2 di Tangerang tempat BSD rumah saya berada (karena tanpa mengenali tetanggamu, tak akan kau mengenali duniamu), sambil dengar nasihat2 mereka.

Sebab itu pula saya sempatkan hadir saat diundang rapat Komite SMUTN oleh Bang Takwa kemarin. Karena secara jujur, baru kali inilah saya belajar tentang komite sekolah, fungsinya, dan berbagai dinamika permasalahan yang dihadapinya.

Dan karena itu pula pertemuan dengan adik2 Ikastara Bandung yang masih mahasiswa menjadi penting, karena 30% alumni saat ini (5 angkatan terakhir) adalah mahasiswa dan perlu bagi saya memahami dinamika kehidupan mereka dan situasi Ikastara cabang.

Dengan tersenyum sambil mengingat masa 15 tahunan lalu -meminjam jawaban secara berseloroh seorang adik alumni yang hadir kemarin di Bandung darimana dia tahu acara ngobrol2 kemarin: “Aktif mencari tahu dong, Bang…”🙂

6. Surat terbuka Agung tentang ditolaknya hak suara alumni di Aceh

Kepada Yth. Panitia Munas & Bamus Ikastara
cq. Alvernia Rendra
cc: alumni SMATN dan koordinator alumni Banda Aceh

Menjelang hari terakhir masa kampanye pemilihan Ketua Ikastara 2008-2011, ada permohonan yang harus saya sampaikan, berasal dari para alumni TN yang berada di propinsi Nanggroe Aceh Darussalam (NAD).

Saya mendapat kabar kemarin (saat sedang berada di Magelang) bahwa alumni SMA TN sebanyak 27 orang (berdasarkan informasi terakhir, melebihi dari 20 orang yang dilaporkan sebelumnya kepada Bamus) yang berada di NAD tidak bisa mendirikan TPS tersendiri.

Ada beberapa alasan yang menjadi dasar mengapa keprihatinan dan himbauan ini saya sampaikan kepada Bamus:

1. Dalam ketentuan yang disampaikan Bamus sebelumnya, ditetapkan bahwa sebuah wilayah bisa menjadi TPS jika terdapat lebih dari 15 alumni dan ada alumni yang menjadi koordinator pemilihan. Kedua hal tersebut dipenuhi dengan jumlah alumni yang dilaporkan oleh koordinator pemilihan Kapt. Andrie Dwi Sukmawijaya mencapai 27 orang

2. Selain itu, dalam pembicaraan telepon dengan MM Firdaus anggota Bamus pada hari Jumat 20 Juni 2008, ybs menyampaikan bahwa masih terdapat tenggat waktu hingga hari Minggu, 22 Juni 2008 untuk
mendaftarkan sebuah wilayah menjadi lokasi TPS asalkan syarat di atas terpenuhi. Permohonan ini sudah diajukan sejak minggu lalu hari Sabtu, 14 Juni 2008 selepas Futsal Ikastara Cup oleh Kapt. Andrie.

3. Yang juga tak kalah pentingnya adalah bahwa para alumni SMATN yang berlokasi di wilayah penghujung barat nusantara ini hampir semuanya adalah para abdi bangsa yang bertugas sebagai prajurit TNI. Cukup sulit bagi mereka untuk melakukan alternatif lain yang diajukan Bamus -yaitu
dengan melakukan pemilihan di TPS Medan. Sangat sulit untuk membayangkan hampir 1 peleton pasukan TNI harus meninggalkan wilayah NAD menuju Medan untuk memberikan suaranya dalam pemilihan ketua Ikastara. Selain tentunya akan sangat mencolok, akan sangat sulit bagi mereka mendapatkan ijin, apalagi jika mengingat pentingnya tugas mereka bagi keutuhan wilayah NKRI.

Oleh karena itu, saya prihatin terhadap situasi ini, dimana sejumlah besar alumni dinafikan kesempatannya untuk menyampaikan hak suaranya.

Saya menghimbau sekali lagi dengan sangat bagi Bamus dan Panitia Munas untuk mempertimbangkan keputusannya menolak pembentukan TPS di Banda Aceh. Saya berharap bahwa menghargai setiap suara alumni yang berhak, sekaligus mentaati peraturan yang telah ditetapkan sendiri sebelumnya,
menjadi prinsip yang dipegang teguh oleh Ikastara.

Akhirul kata, saya merasa perlu menyampaikan amanat dari alumni di NAD (kontak 0812690xxxx) yang menunggu kebijaksanaan dari Panitia Munas di hari terakhir kampanye ini. Hal ini semoga juga menjadi catatan bagi Ikastara dalam menegakkan prinsip-prinsip berdemokrasi dalam langkah selanjutnya.

Ttd.
Agung Wicaksono

Responses

  1. bang bayar royalti ke aku yak , atas dimuatnya ide pertanyaanku.

    aku pribadi scr fair melihat kekonsistenan pemilihan model website dng cita2 AGW, memilih wordpress, adalah ciri kemapanan yang sederhana, namun efektif.

  2. berapa, git? he3

  3. ” 5 angkatan terakhir adalah mahasiswa dan perlu bagi saya memahami dinamika kehidupan mereka dan situasi Ikastara cabang”

    Penting banget nih, secara mereka adalah pengurus cabang dan motor sesungguhnya dari Ikastara.

  4. Bagi yg kuliah, tujuan selanjutnya tentu bekerja. Alangkah baiknya jika info magang dan lowongan kerja dalam ring 1 dan ring 2 alumni bisa diefektifkan dan dipusatkan :))

  5. wah..selamat gung atas pencalonannya..sukses deh..:)


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: