Posted by: GIDEON DAVID RATADHI | June 6, 2008

“Menjadi yang terbaik itu konsekuensinya seumur hidup”

(Alm) H. Kol. (Mar) A. Karim Usman: “…karena menjadi yang terbaik itu konsekuensinya seumur hidup..”[1]

Lembah Tidar, medio 1995

Di suatu pagi setelah apel bersama, sosok tubuh yang walau mulai menua namun tetap tegar, kekar dan tegas itu memanggil saya ke kantornya. Tak ada yang tak segan, hormat dan (paling tidak buat saya pribadi) kagum pada pribadinya, seorang Kolonel Marinir yang menjadi Wakil Kepala Sekolah Urusan Kesiswaan di kampus ini. Walau terkadang gemetar kalau sedang ditilik olehnya dari ujung baret, kepala ikat pinggang (ber-brasso ataupun tidak) hingga ujung jari sepatu (yang walau tidak pernah minta disemirkan ke adik siswa tapi mudah-mudahan tetap memuaskan), tapi keseganan itu menurut saya tidak dibangun oleh beliau dengan represi, tetapi dengan disiplin, perhatian dan
konsistensi antara perkataan dan perbuatan beliau. Sayang mungkin hanya angkatan 1 sampai dengan angkatan 6 yang pernah berjumpa dengannya.

Percakapan tersebut –tentunya dengan saya bersikap “duduk siap” sepanjang pertemuan– diawali dengan pertanyaan beliau soal persiapan para siswa kelas III dalam melanjutkan studinya, baik yang mau ke AKABRI maupun mengikuti UMPTN (jalur sipil istilahnya), suatu hal yang wajar karena sebagai ketua di antara anggota Perwakilan Kelas (PK) III, tugas saya yang utama salah satunya adalah soal itu. Dengan bekerjasama dengan para anggota PK kelas III lainnya, kita semua berusaha
agar bulan-bulan terakhir hidup kita di kampus biru akan menjadi landasan yang kokoh untuk menempuh hidup selanjutnya.

Kemudian muncullah pertanyaan yang menjadi momen yang akan saya ingat selamanya dalam hidup:

A. Karim Usman (AKU) :Agung, sebentar lagi kalian kelas III akan meninggalkan kampus ini sebagai
alumni angkatan III

Agung Wicaksono (AGW) :Siap, Pak!

AKU : Apakah kamu merasa sudah siap untuk�meninggalkan kampus ini?

AGW : Siap, Pak!

AKU : Apakah kamu siap untuk menjadi yang terbaik?

AGW : (dengan masih belum memahami betul apa yang beliau maksud)…Siap, Pak!

AKU :Apakah kamu siap dan menyadari, bahwa menjadi yang terbaik itu, konsekuensinya seumur hidup?

AGW : Siap, Pak! (dengan masih berpikir keras tentang apa yang beliau maksud)

Percakapan tersebut kemudian berlanjut lebih detail tentang nasihat beliau terhadap saya dan secara umum saat jadi alumni nantinya. Sebuah percakapan yang sangat bermakna, dari seorang Bapak kepada anaknya. Seorang Bapak yang kabar wafatnya beliau di tanah suci saat menunaikan ibadah haji membuat air mata saya menetes saat mendengarnya ketika saya sedang studi di Jerman (beberapa hari sebelum saya berangkat studi ke Jerman, saya bersyukur masih sempat mengunjungi dan bertemu terakhir kali dengan beliau dan keluarga di rumah dinasnya di komplek TNI AL kawasan Kelapa
Gading, saat beliau sudah sakit dengan gangguan penglihatan).

Beberapa bulan setelah percakapan itu, di hari Prasetya Alumni angkatan III saya merasa mendapatkan
keberuntungan dan anugerah dengan mendapatkan salah satu penghargaan saat kelulusan alumni. Tidak menjadi penting penghargaan apa yang didapatkan, siapa yang mendapatkan (saya rasa curhat berbagai teman yang `menjadi aktor’ sudah berseliweran di mailing-list smatn3 soal itu, baik yang `mengaku dosa’, `tulus ikhlas’, maupun yang akhirnya tertawa-tawa bercanda nostalgia sambil `nyela2′). Tidak menjadi terlalu penting juga bahwa mungkin penghargaan itulah yang
dimaksud Pak Karim dengan nasihat “menjadi yang terbaik” itu.

Tapi setelah saya renungi, yang maha penting dari percakapan itu adalah bagian terakhir dari kalimat
tersebut: “…konsekuensinya seumur hidup…”…..

Dan setelah saya renungi lagi, yang dimaksud beliau dengan MENJADI YANG TERBAIK tersebut adalah dengan MENJADI ALUMNI SMA TARUNA NUSANTARA.

Pesan Pak Karim “menjadi yang terbaik itu konsekuensinya seumur hidup” tersebut selalu terngiang di kuping saya saat kemudian melangkahkan kaki masuk ITB, dipelonco oleh para aktivis senior yang anti-militerisme tapi dengan cara OS ala-`millitary wanna be’, jadi mahasiswa baik secara akademis maupun aktifis hingga memimpin himpunan mahasiswa Teknik Industri dan memimpin gerakan mahasiswa (berteriak “tidak percaya pada kepemimpinan Soeharto” mewakili kemahasiswaan ITB, saat beliau bukan lagi `yang terbaik buat rakyat’), bahkan ketika harus berhadapan di jalan dengan perisai abang-abang angkatan 1 di Polri (yang juga sedang menunaikan tugas “menjadi yang terbaik konsekuensinya seumur hidup” bagi rakyat agar tidak timbul anarkisme). ….

“Konsekuensi seumur hidup” itu juga terus mengejar saya ke Jerman (saat ditanya-tanya CIA-nya Jerman mewakili mahasiswa asing, gara-gara tersangka pilot 9/11 penabrak WTC kebetulan muslim lulusan universitas yang sama dengan saya); Singapura (saat berupaya mengorganisir alumni ITB muda bikin Ikatan Alumni ITB cabang di sana); Swiss (saat berupaya menyelesaikan disertasi tentang bagaimana Temasek dikelola sehingga bisa merajalela sampai di ranah ekonomi tanah air), saat bekerja sebagai konsultan, meneliti dan menulis, maupun mengajar di depan kelas; bahkan saat mengucap ijab kabul di depan istri tercinta (kalau ini sih memang konsekuensinya seumur hidup..hehehe…)

Banyak teman-teman yang mungkin berkata, “Ah, capek deh kuping gua dengan slogan klise `putra-putri terbaik bangsa’…”. Lalu akan ada juga yang berkata, “Ah, jalan hidup gua ya gua sendiri yang menentukan, mau jadi yang terbaik kek, pemimpin atau bukan kek, suka-suka gua”. Dengan realistis juga banyak orang akan berkata: “Tidak semua orang bisa menjadi yang terbaik, bahkan ketika ia berusaha keras sekalipun…karena Tuhan sudah menentukan jalannya masing-masing”.

Tapi saya berani mengatakan bahwa….KONSEKUENSI SEUMUR HIDUP sebagai alumni SMATN adalah sesuatu yang tidak terbantahkan. Kita boleh merasa kita bukan putra bangsa yang terbaik, kita boleh berkata “sudah berjuang tapi belum mampu menjadi yang terbaik dalam hidup”, kita ingin memberikan yang terbaik tapi banyak keterbatasan dan realitas hidup yang menghalanginya. Apapun yang terjadi, kita tetap akan memiliki konsekuensi seumur hidup sebagai alumni SMA Taruna Nusantara, yang diharapkan memberikan karya kita yang terbaik (dengan segala keterbatasannya) bagi masyarakat, bangsa, negara dan dunia.

Dengan diawali ucapan Bismillahirahmanirrahim, saya memberanikan diri untuk menunaikan satu bagian dari konsekuensi seumur hidup tersebut, untuk bekerja bersama dengan seluruh alumni SMA Taruna Nusantara, dengan menerima dukungan teman-teman untuk dicalonkan menjadi Ketua Ikastara 2008-2011….

Semoga Tuhan Memberkati Sumpah dan Janjiku,

Agung Wicaksono

92.0704


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: